YANG DATANG SEPERTI ANGIN
YANG DATANG SEPERTI ANGIN
(Tentang Melepas Tanpa Kehilangan)
Penulis: La Jamilu
Guru MIN 1 Tuban
Angin malam itu datang tanpa mengetuk, tanpa permisi, tanpa janji untuk tinggal. Ia menyusup di sela-sela jendela yang sedikit terbuka, menyentuh wajah dengan lembut, lalu pergi seolah tak pernah hadir. Tak ada yang mampu menahannya, tak ada pula yang benar-benar bisa memilikinya.
“Bukankah aku hanya singgah?” bisik angin, sebelum lenyap dalam sunyi.
Namun manusia, sejak dulu hingga kini, selalu memiliki kecenderungan yang sama yakni ingin menggenggam apa yang bahkan tidak pernah meminta untuk digenggam.
Di masa lalu, ketika hidup belum secepat detak notifikasi, manusia lebih akrab dengan kehilangan. Mereka tidak selalu menyebutnya luka, karena mereka tahu bahwa tidak semua yang pergi adalah milik mereka sejak awal.
Seorang petani pernah berkata pada angin yang melintas di ladangnya,
"Jika kau ingin pergi, pergilah. Aku hanya akan menjaga apa yang tumbuh, bukan mengejar apa yang berlalu."
Dan ladang itu tetap hijau, bukan karena ia menahan angin, tetapi karena ia memahami perannya.
Namun bahkan di masa itu, ada pula yang menjerat angin dalam harapan. Mereka mengira bahwa setiap yang datang adalah takdir untuk dimiliki. Mereka lupa bahwa kehadiran tidak selalu berarti kepemilikan.
Langit hanya tersenyum, menyaksikan kesalahpahaman yang berulang dari generasi ke generasi.
Hari ini, di masa yang disebut modern, manusia semakin pandai menciptakan ilusi kepemilikan. Segala sesuatu ingin diberi label: “milikku”, “punyaku”, “bagian dariku”. Bahkan hal-hal yang jelas-jelas bersifat sementara pun dipaksakan menjadi abadi.
Hubungan, jabatan, popularitas semuanya ingin diikat seolah waktu bisa dinegosiasikan. Padahal waktu tidak pernah mau berunding.
Ia hanya berjalan. Dan angin, tetap setia pada sifatnya yakni datang, lalu pergi.
“Kenapa kau selalu marah saat aku meninggalkanmu?” tanya angin suatu ketika. Manusia terdiam, sebab ia sendiri tidak tahu jawabannya. Mungkin karena manusia terlalu sering diajarkan untuk memiliki, bukan untuk merelakan.
Di sudut kehidupan yang jarang diperhatikan, ada kenyataan yang sederhana namun sering diabaikan yakni tidak semua yang hadir dalam hidup kita ditujukan untuk tinggal.
Ada yang datang hanya untuk mengajarkan.
Ada yang hadir hanya untuk mengingatkan.
Ada pula yang sekadar lewat, tanpa membawa pesan apa pun, selain pelajaran tentang keikhlasan.
Namun kita sering kali memperlakukan semuanya sama yakni dipertahankan mati-matian. Kita lupa, bahwa memaksakan sesuatu untuk tetap tinggal sering kali justru mengubahnya menjadi beban.
Seperti angin yang dipaksa masuk ke dalam botol, ia kehilangan kebebasannya, dan kita kehilangan esensinya.
Jika masa lalu mengajarkan kesederhanaan, dan masa kini dipenuhi ambisi, maka masa depan adalah cermin dari cara kita memperlakukan kehadiran hari ini.
Bayangkan masa depan di mana manusia terus memaksakan semua yang datang untuk tetap ada. Mereka akan hidup dalam ketakutan yang tak pernah usai, takut kehilangan, takut ditinggalkan, takut pada perubahan. Padahal perubahan adalah satu-satunya hal yang tidak pernah berubah.
Di masa depan itu, manusia akan memiliki segalanya, tetapi kehilangan ketenangan. Mereka akan dikelilingi oleh banyak hal, tetapi merasa kosong, karena mereka lupa satu hal penting bahwa tidak semua yang bisa kita genggam harus kita simpan.
Dan ironisnya, semakin mereka berusaha mempertahankan, semakin cepat pula semuanya pergi. Waktu, seperti biasa, hanya mengamati. Ia tidak pernah memaksa kita untuk mengerti, tetapi selalu memberi kesempatan untuk belajar.
Tulisan ini bukan ajakan untuk menjadi pasrah tanpa usaha. Bukan pula pembenaran untuk menyerah sebelum mencoba. Tetapi ini adalah undangan untuk memahami batas antara memperjuangkan dan memaksakan, karena ada perbedaan yang sangat tipis, tetapi berdampak besar.
Memperjuangkan adalah ketika kita berusaha dengan kesadaran.
Memaksakan adalah ketika kita bertahan tanpa keikhlasan.
Dan sering kali, kita baru menyadari perbedaannya setelah semuanya terlambat.
Angin pernah berbicara pada daun yang jatuh,
"Aku tidak menjatuhkanmu, aku hanya membantumu kembali pada tanah."
Dan daun itu, dalam diamnya, akhirnya mengerti bahwa kejatuhan bukan selalu tentang kehilangan terkadang itu adalah bagian dari perjalanan pulang. Namun manusia jarang melihat dari sudut itu.
Kita terlalu sibuk mempertanyakan “mengapa ini pergi?” daripada memahami “untuk apa ini datang?”
Padahal, jika kita mau jujur, banyak hal yang datang dalam hidup kita bukan untuk dimiliki, tetapi untuk disadari.
Ada hubungan yang datang hanya untuk mengajarkan arti sabar.
Ada kegagalan yang hadir untuk menunjukkan arah yang benar.
Ada pula kebahagiaan yang singkat, hanya untuk mengingatkan bahwa kita masih bisa tersenyum. Namun ketika semua itu pergi, kita menyebutnya kehilangan. Padahal mungkin itu adalah penyelesaian.
Di tengah dunia yang terus berlari, kita sering lupa bahwa hidup bukan tentang seberapa banyak yang kita kumpulkan, tetapi seberapa bijak kita memahami apa yang perlu dilepaskan.
Kita diajarkan untuk mengejar, tetapi jarang diajarkan untuk merelakan. Kita didorong untuk memiliki, tetapi jarang diajak untuk memahami makna kehadiran. Dan dari situlah, kelelahan itu bermula.
Maka, jika suatu hari sesuatu datang dalam hidupmu, entah itu kebahagiaan, kesempatan, atau seseorang, maka sambutlah dengan syukur, tetapi jangan ikat dengan ketakutan.
Biarkan ia menjadi seperti angin yang dirasakan, disyukuri, tetapi tidak dipaksa untuk tinggal.
Karena yang benar-benar ditakdirkan untukmu tidak akan pergi hanya karena waktu, dan yang bukan untukmu tidak akan tinggal meski kau menahannya dengan seluruh kekuatanmu.
Langit pernah berkata pada angin,
"Kau bebas ke mana saja, tetapi kau tidak pernah benar-benar hilang."
Dan angin menjawab,
"Karena aku tidak pernah dimiliki, aku juga tidak pernah meninggalkan."
Ada kebebasan dalam ketidakterikatan yang tidak akan pernah dipahami oleh mereka yang terus menggenggam tanpa henti.
Pada akhirnya, hidup bukan tentang menahan segala yang datang, tetapi tentang memahami mana yang harus disimpan dan mana yang harus dilepaskan.
Beberapa hal datang layaknya angin muncul sejenak lalu menghilang di antara waktu. Tidak perlu terlalu dipertahankan, sebab tidak setiap yang ada ditujukan untuk dimiliki.
Dan di situlah, kedewasaan menemukan bentuknya.
Pesan Moral:
Keikhlasan bukan berarti kehilangan, melainkan kemampuan untuk menerima bahwa tidak semua yang hadir dalam hidup kita ditakdirkan untuk menetap. Belajarlah untuk mensyukuri kehadiran tanpa terikat pada keharusan memiliki. Karena dalam hidup, yang paling menenangkan bukanlah apa yang kita genggam, tetapi apa yang kita relakan dengan lapang.
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
DIAM YANG MENYIMPAN JAWABAN Renungan tentang Luka, Kepergian, dan Kekuatan untuk Tetap Berdiri
DIAM YANG MENYIMPAN JAWABANRenungan tentang Luka, Kepergian, dan Kekuatan untuk Tetap Berdiri Penulis: La JamiluGuru MIN 1 Tuban/Pegiat Literasi Ada masa ketika diam bukan lagi tanda
MERAJUT KEBANGKITAN LEWAT PENDIDIKAN MADRASAH DAN INKLUSIF BERINTEGRITAS: Dari Madrasah untuk Peradaban
MERAJUT KEBANGKITAN LEWAT PENDIDIKAN MADRASAH DAN INKLUSIF BERINTEGRITAS: Dari Madrasah untuk PeradabanOleh: La JamiluGuru MIN 1 Tuban / Mahasiswa S3 UIN Syekh Wasil Kediri Langit pagi
ANTARA KEINGINAN DAN PERLINDUNGAN
ANTARA KEINGINAN DAN PERLINDUNGAN(Ketika Langit Lebih Tahu dari yang Kita Mau)Penulis: La JamiluGuru MIN 1 Tuban/Mahasiswa S3 UIN Syekh Wasil Kediri Langit tidak pernah benar-benar dia
KETIKA KEUNGGULAN BUKAN WARISAN
KETIKA KEUNGGULAN BUKAN WARISAN(Disiplin, Konsistensi, dan Pengalaman sebagai Jalan Sunyi Menuju Makna)Penulis: La JamiluGuru MIN 1 Tuban / Mahasiswa S3 UIN Syekh Wasil Kediri Langit
“GURU ATAU BAYANGAN KOSONG"
“GURU ATAU BAYANGAN KOSONG"(Pilih Menyala atau Menghilang)Penulis: La JamiluGuru MIN 1 Tuban Ada yang lebih sunyi dari ruang kelas yang kosong yaitu ruang kelas yang diisi oleh


